حِزب (PDIP): عَدد الفترات المثالي لرئيس الجمهورية هو 2

PDIP: Jabatan Presiden Paling Ideal 2 Periode

268

جاكرتا، إندونيسيا اليوم – أعلنَ حزب (PDIP) أن عَدد الفترات الرئاسية المثالي هو إثنان. وأن ميجاواتي سوكارنوبوتري -رئيسة الحِزب-، تَرفض طَرح فِكرة مراجعة عَدد الفترات الرئاسية.

قَال السكرتير العَام للحزب، هاستو كريستيانتو، في لقاء عُقد معه في إفتتاح مقر الحزب في بورواكارتا، يَوم السبت (23/11): “لا نؤيد فِكرة زيادة عَدد الفترات الرئاسية، التي قَد حددناها مِن قَبل بُمدتين مُنذ عَصر الإصلاح”.

وأكَّد عَلى أن النظام الموجود حاليًا هو النِظام المثالي. وفي الوَقت الحالي، لا توجد أي حاجة لتغيير عَدد الفترات الرئاسية.

طَرح حِزب التضامن الإندونيسي (PSI) فِكرة لجَعل الفترة الإنتخابية التي يبقاها الرئيس هي 7 سنوات، لمرة واحِدة فَقط. والجَدير بالذكر أن هذا الحِزب فَشل في الإنتخابات هذا العَام 2019 في الوصول إلى نسبة الحسم البرلماني.

عَلل الحَزب مُقترحه هذا بإنه إذا أصبحت المُدة هي 7 سنوات. لَن يكون هُناك أي ضغط سياسي عَلى رئيس الجمهورية، مُتعلق بالفترات الإنتخابية القَصيرة.

أكَّد هاستو أيضًا عَلى أن مُقترح تعديل دستور عَام 1945 سَوف يشمل الخطوط العريضة لسياسة الدَولة. ولَن تتم مناقشة عَدد فترات رئيس الجمهورية ونائِبه.

ويَرى هاستو أن الدَولة الإندونيسية بحاجة لتوضيح الأهداف والخطوط العَريضة لَها. مثل، أن تَكون الدَولة بِها عدالة إجتماعية وأن تَكون مزدهرة. وأن التعديلات الدستورية الُقترحة سَوف يكون هذا هو هدفها الرئيسي. ألا وهو، توضيح رؤية الدَولة الإندونيسية لمُدة 25 أو 50 أو حَتى 100 عَام مُقبلين.

وبخصوص التعديلات الدستورية التي تَحدث عَنها. فإن الحزب سَوف يتواصل مَع قادة الأحزاب الأخرى والفصائل السياسية المختلفة لتحديد مواعيد وخِطة لتنظيم هذا الأمر.

حيث قال: “كحزب نشأنا مِن الشَعب. فإننا نتقبل كُل الآراء والمُقترحات مِن جَميع الأطراف المختلفة”.

 

المترجم : محمد علي | المصدر: وكالة ريبوبليكا الإخبارية


Jakarta, Indonesiaalyoum.com – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ( pdip ) menyebutkan masa jabatan presiden paling ideal adalah dua periode. Partai yang dikomandoi oleh Megawati Soekarnoputri itu menolak usulan atau wacana revisi masa jabatan presiden dan wakil presiden.

“Ya kami tidak sependapat karena semangat reformasi telah membatasi jabatan presiden sebanyak dua periode paling lama,” kata Sekretaris Jendral PDIP Hasto Kristiyanto disela peresmian DPC partai di Purwakarta, Sabtu (23/11).

Hasto mengungkapkan aturan masa jabatan kepala negara yang berlaku saat ini masih ideal. Dia mengatakan, untuk saat ini negara tidak perlu mengubah aturan yang ada.

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengusulkan agar masa jabatan presiden yang tadinya empat tahun dan dua periode, menjadi tujuh tahun dan hanya satu periode. Partai yang gagal melampaui ambang batas parlemen pada Pemilu 2019 lalu itu berpendapat, dengan masa jabatan yang hanya satu periode membuat presiden terlepas dari tekanan politik jangka pendek. Presiden juga diharapkan lebih fokus untuk melahirkan kebijakan terbaik, serta terbebas dari pragmatisme.

Hasto menegaskan amandemen UUD 1945 yang diwacanakan PDIP hanya sebatas Garis Besar Haluan Negara (GBHN), bukan mewacanakan revisi masa jabatan presiden dan wakil presiden. Partai berlogo banteng moncong putih itu menegaskan bahwa sikap PDIP soal amandemen terbatas hanya terkait haluan negara.

PDIP, Hasto mengatakan, berpendapat bahwa negara dan bangsa memerlukan arahan untuk menuju terhadap visi tertentu semisal masyarakat adil dan makmur. Dia melanjutkan, amandemen terbatas diadakan untuk menempatkan haluan negara sebagai pedoman bagi seluruh arah dan perjalanan bangsa 25, 50 hingga 100 tahun ke depan.

PDIP, dia mengungkapkan, akan segera berdialog dengan para pimpinan partai politik lainnya terkait amandemen tersrbut. Hal serupa, sambung dia, juga bakal dilakukan pimpinan fraksi untuk menyusun agenda-agenda strategis terkait dengan hal tersebut.

“Sebagai partai yang berasal dari rakyat kami juga mendengarkan seluruh aspirasi, masukan dari seluruh komponen bangsa,” katanya.

Penerjemah: Mohamed Ali | Sumber: nasional.republika.co.id

تعليقات
Loading...