indonesiaalyoum.com
إندونيسيا اليوم

إندونيسيا ودول عربية تدين القيود الإسرائيلية على الأقصى وكنائس القدس

RI dan Negara Arab Kecam Pembatasan Israel di Al Aqsa-Gereja Yerusalem

0 25

جاكرتا، إندونيسيا اليوم – أدانت إندونيسيا إلى جانب عدد من الدول العربية والإسلامية بشدة الإجراءات التي تفرضها إسرائيل على حرية العبادة في القدس المحتلة، معتبرةً أنها انتهاك خطير للوضع القائم في الأماكن المقدسة.

إقرأ أيضاشركة أنيكا تامبانغ الإندونيسية تدرس استكشاف الذهب في السعودية

وجاء ذلك في بيان مشترك لوزراء خارجية كل من مصر والأردن وباكستان وقطر والمملكة العربية السعودية وتركيا، حيث عبّروا عن رفضهم المستمر للقيود المفروضة على المسلمين والمسيحيين في المدينة.

وأوضح البيان أن هذه الإجراءات شملت منع المصلين المسلمين من الوصول إلى المسجد الأقصى، إلى جانب عرقلة دخول قيادات كنسية إلى كنيسة القيامة لأداء الشعائر الدينية، وهو ما اعتُبر مساسًا مباشرًا بحرية العبادة.

كما حذّر الوزراء من أن هذه السياسات قد تغيّر الوضع القانوني والتاريخي القائم في الأماكن المقدسة الإسلامية والمسيحية في القدس، مؤكدين أن إغلاق المسجد الأقصى لعدة أيام، بما في ذلك خلال شهر رمضان، يمثل خرقًا واضحًا للقانون الدولي والتزامات إسرائيل كقوة احتلال.

وأشار البيان إلى أن التصعيد المستمر قد يهدد الأمن والاستقرار على المستويين الإقليمي والدولي، داعيًا المجتمع الدولي إلى اتخاذ موقف حازم لوقف هذه الانتهاكات.

إقرأ أيضا:  أحد المتهمين الجدد في قضية فساد حصص الحج موجود في السعودية

وشدّد الوزراء على أن كامل مساحة المسجد الأقصى هي مكان عبادة خالص للمسلمين وتخضع لإشراف الأوقاف الأردنية، مطالبين إسرائيل بفتح المسجد فورًا ورفع القيود المفروضة على دخول البلدة القديمة في القدس، وعدم عرقلة المصلين.

وفي سياق متصل، منعت الشرطة الإسرائيلية بطريرك اللاتين في القدس، بييرباتيستا بيتسابالا، من دخول كنيسة القيامة لإقامة قداس أحد الشعانين، ما اضطره إلى العودة دون أداء الشعائر.

كما أغلقت السلطات الإسرائيلية المسجد الأقصى أمام المصلين بحجة الأوضاع الأمنية، بما في ذلك خلال عيد الفطر، ما أجبر العديد من الفلسطينيين على أداء الصلاة في الشوارع، وسط قيود مشددة وإجراءات عسكرية في البلدة القديمة، حيث مُنع كثيرون من الوصول إلى أبواب المسجد.

تابع الأخبار والمقالات الأخرى على قناة واتساب
إرني بوسبيتا ساري | إندونيسيا اليوم | CNN Indonesia


JAKARTA, INDONESIA ALYOUM.COM –  Indonesia dan delapan negara Timur Tengah mengecam keras pembatasan beribadah yang dilakukan oleh Israel di Yerusalem yang diduduki.

Kecaman itu disampaikan melalui pernyataan bersama para Menteri Luar Negeri dari beberapa negara Muslim dan Arab dalam unggahan di X Kementerian Luar Negeri RI.

“Para Menlu Indonesia, Mesir, Yordania, Pakistan, Qatar, Arab Saudi, dan Turki mengecam dengan keras serta menolak pembatasan berkelanjutan yang diberlakukan Israel terhadap kebebasan beribadah umat Muslim dan Kristen di Yerusalem yang diduduki,” demikian bunyi pernyataan tersebut.

“Pembatasan itu mencakup pelarangan jamaah Muslim mengakses Masjid Al-Aqsa/Al-Haram Al-Sharif, serta pencegahan Patriark Latin Yerusalem dan Kustos Tanah Suci memasuki Gereja Makam Kudus untuk memimpin Misa Minggu Palma,” lanjut pernyataan itu.

Pernyataan bersama itu juga mengecam upaya Israel yang dinilai berpotensi mengubah status quo hukum dan historis di situs-situs suci umat Muslim dan Kristen di Yerusalem.

Mereka menilai langkah Israel, termasuk penutupan gerbang Masjid Al-Aqsa selama puluhan hari, merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional.

“Para Menteri kembali mengecam penutupan Masjid Al-Aqsa/Al-Haram Al-Sharif oleh Israel selama 30 hari berturut-turut, termasuk selama bulan suci Ramadan, serta pembatasan kebebasan beribadah yang melanggar hukum internasional, status quo hukum dan historis yang berlaku, serta kewajiban Israel sebagai kekuatan pendudukan,” tulis pernyataan itu.

“Mereka memperingatkan langkah-langkah eskalatif itu berpotensi mengancam perdamaian dan keamanan regional maupun internasional.”

Selain itu, para Menteri menegaskan seluruh kawasan Masjid Al-Aqsa merupakan tempat ibadah secara eksklusif bagi umat Muslim dan berada di bawah otoritas Wakaf Yordania.

Dalam pernyataan itu, negara-negara yang terlibat juga mendesak komunitas internasional untuk mengambil sikap untuk menghentikan pelanggaran.

“Para Menteri menyerukan kepada Israel, untuk segera menghentikan penutupan Masjid Al-Aqsa/Al-Haram Al-Sharif, mencabut pembatasan akses di Kota Tua Yerusalem, serta tidak lagi menghalangi jamaah Muslim memasuki masjid itu.”

Mereka juga mendesak untuk menghentikan praktik ilegal terhadap situs-situs suci Islam dan Kristen di Yerusalem, termasuk pelanggaran terhadap kesucian tempat ibadah itu.

Sebelumnya, Kepolisian Israel menghadang Patriark Latin Yerusalem, Kardinal Pierbattista Pizzaballa, memasuki Gereja Makam Kudus untuk memimpin misa Minggu Palma.

“Pagi ini, polisi Israel mencegah Patriark Latin Yerusalem, Yang Mulia Kardinal Pierbattista Pizzaballa, pemimpin Gereja Katolik di Tanah Suci, bersama Kustos Tanah Suci, Yang Terhormat Pastor Francesco Ielpo, OFM, penjaga resmi Gereja Makam Kudus, memasuki Gereja Makam Kudus di Yerusalem saat mereka hendak memimpin misa Minggu Palma,” demikian pernyataan Patriarkat dikutip AFP, Minggu (29/3).

Para pemimpin gereja dihentikan polisi Israel saat berjalan tanpa bentuk prosesi atau seremoni apapun, sehingga terpaksa berbalik arah.

Selain itu, otoritas Israel juga menutup Masjid Al Aqsa bagi jemaah, dengan alasan keamanan di wilayah yang dinilai masih tidak stabil. Penutupan ini bahkan dilakukan saat Hari Raya Idulfitri, hingga memaksa jemaah menggelar salat di jalanan.

Warga Palestina tidak diizinkan masuk untuk menjalankan ibadah, sementara akses menuju kompleks dibatasi secara ketat.

Selain itu, sejumlah saksi mengatakan beberapa jemaah yang mencoba mencapai gerbang masjid diminta kembali, dan sebagian wilayah Kota Tua berubah menjadi area militer tertutup.

Erni Puspita Sari | CNN INDONESIA

اترك رد

لن يتم نشر عنوان بريدك الإلكتروني.