اتجاه عالمي متصاعد لتقييد استخدام وسائل التواصل للأطفال، وإندونيسيا في المقدمة
Dunia Berubah, Makin Banyak Negara Maju Ikut Indonesia
جاكرتا، إندونيسيا اليوم – تشهد دول عدة حول العالم توجهًا متزايدًا نحو فرض قيود على استخدام وسائل التواصل الاجتماعي للأطفال، في خطوة تهدف إلى حماية الفئات العمرية الصغيرة من آثارها السلبية. وتأتي إندونيسيا ضمن الدول التي بادرت بتطبيق هذه السياسات، حيث بدأت منذ 28 مارس 2026 تنفيذ حظر على استخدام المنصات لمن هم دون سن 16 عامًا.
إقرأ أيضا: مدرب “هازم أحلام إندونيسيا” يقترب من الرحيل عن السعودية واهتمام متزايد بخدماته
وفي السياق نفسه، تبرز فرنسا كأحدث الدول التي تسعى لاعتماد إجراء مماثل، إذ يناقش مجلس الشيوخ مشروع قانون يقضي بمنع الأطفال دون 15 عامًا من الوصول إلى وسائل التواصل الاجتماعي. ويحظى هذا التوجه بدعم الرئيس إيمانويل ماكرون، الذي يأمل في دخول القانون حيّز التنفيذ مع بداية العام الدراسي المقبل في شهر سبتمبر.
وتوضح النائبة لور ميلر، وهي من أبرز المساهمين في صياغة المشروع، أن المقترح يفرض على المنصات الرقمية تطبيق أنظمة دقيقة وموثوقة للتحقق من أعمار المستخدمين، مع ضمان حماية بياناتهم الشخصية.
ويأتي هذا التوجه نتيجة تزايد القلق من وصول الأطفال إلى الهواتف الذكية في سن مبكرة، وما يترتب عليه من تأثيرات سلبية على نموهم النفسي والمعرفي.
إقرأ أيضا: وزير الثقافة الإندونيسي يسعى لاتفاقية جديدة مع السعودية لتعزيز التعاون الثقافي
ورغم ذلك، لا يزال المشروع يواجه نقاشات داخل البرلمان الفرنسي، حيث طُرح في البداية كحظر شامل، قبل أن يُعدّل ليشمل تقييد الوصول إلى منصات محددة تُصنّف على أنها ضارة للأطفال.
ويعكس هذا التوجه تحوّلًا عالميًا في التعامل مع الفضاء الرقمي، مع تزايد إدراك الحكومات لمخاطره على الأجيال الناشئة، وسعيها لوضع أطر تنظيمية توازن بين الاستخدام الآمن والتطور التكنولوجي.
تابع الأخبار والمقالات الأخرى على قناة واتساب
إرني بوسبيتا ساري | إندونيسيا اليوم | CNBC Indonesia
JAKARTA, INDONESIA ALYOUM.COM – Makin banyak negara yang ingin menerapkan pembatasan media sosial untuk anak berusia muda. Sejumlah negara lain sudah mulai menerapkannya, termasuk Indonesia yang telah mulai menegakkannya pada 28 Maret 2026 untuk usia 16 tahun ke bawah.
Perancis jadi negara terbaru yang memiliki rencana melarang akses media sosial untuk anak usia di bawah 15 tahun. Langkah terbarunya, para senator akan memberikan suara soal rencana tersebut, dikutip dari Reuters, Rabu (1/4/2026).
Presiden Emmanuel Macron sendiri menginginkan undang-undang pembatasan bisa berlaku saat tahun ajaran berikutnya, yakni bulan September mendatang.
Salah satu yang menyusun rancangan undang-undang, Laure Miller menjelaskan ide aturan tersebut akan mewajibkan platform menerapkan verifikasi usia masing-masing. Hal ini dilakukan dengan andal, kuat, dan tetap melindungi data pribadi pengguna.
“Anak muda memiliki akses ke smartphone pada usia yang semakin muda,” jelasnya.
“Ini berdampak signifikan pada perkembangan mereka, secara pribadi maupun kognitif,” dia menambahkan.
Namun nampaknya larangan tersebut akan menemukan tantangan di tangan para Senat. Aturan yang dirancang meminta larangan menyeluruh, kemudian diubah pada tingkat komite hanya ingin memblokir pada platform tertentu yang dianggap berbahaya bagi anak.
Presiden Emmanuel Macron sendiri menginginkan undang-undang pembatasan bisa berlaku saat tahun ajaran berikutnya, yakni bulan September mendatang.
Salah satu yang menyusun rancangan undang-undang, Laure Miller menjelaskan ide aturan tersebut akan mewajibkan platform menerapkan verifikasi usia masing-masing. Hal ini dilakukan dengan andal, kuat, dan tetap melindungi data pribadi pengguna.
“Anak muda memiliki akses ke smartphone pada usia yang semakin muda,” jelasnya.
“Ini berdampak signifikan pada perkembangan mereka, secara pribadi maupun kognitif,” dia menambahkan.
Namun nampaknya larangan tersebut akan menemukan tantangan di tangan para Senat. Aturan yang dirancang meminta larangan menyeluruh, kemudian diubah pada tingkat komite hanya ingin memblokir pada platform tertentu yang dianggap berbahaya bagi anak.
Erni Puspita Sari | CNBC Indonesia