إندونيسيا ترحّل مواطناً يمنياً تجاوز مدة الإقامة القانونية في بندر لامبونغ
Imigrasi Bandarlampung deportasi WNA asal Yaman
- رحّلت سلطات الهجرة في بندر لامبونغ مواطناً يمنياً بعد تجاوزه مدة الإقامة القانونية بنحو ٦٦ يوماً.
- بدأت القضية ببلاغ من السكان عن وجود المواطن الأجنبي في أحد أماكن الإقامة، قبل أن تؤكد الفحوص مخالفة وثائق الهجرة.
- أكدت سلطات الهجرة الإندونيسية أن عملية الترحيل استُكملت وفق الإجراءات القانونية، مع التشديد على استمرار الرقابة على الأجانب.
جاكرتا، إندونيسيا اليوم – رحّل مكتب الهجرة من الفئة الأولى في نقطة التفتيش الهجري ببندر لامبونغ مواطناً يمنياً يُدعى محمد صالح أحمد آل، عبر مطار سوكارنو هاتا الدولي في تانغيرانغ، بإقليم بانتن.
وقال رئيس مكتب الهجرة، توفيق هدايات، السبت، إن «الترحيل يأتي في إطار تنفيذ إجراء إداري في مجال الهجرة، وفقاً للقوانين واللوائح النافذة، بهدف إنفاذ قانون الهجرة في إندونيسيا».
وأوضح أن المعني خالف أنظمة الهجرة بعد بقائه في مقاطعة لامبونغ عقب انتهاء مدة تصريح الإقامة.
وقال: «تجاوز المعني مدة الإقامة المسموح بها لمدة ٦٦ يوماً».
وأضاف أن عملية الترحيل جرت بسلاسة ووفق الإجراءات المعتمدة، حيث رافق فريق من الهجرة المعني إلى مطار سوكارنو هاتا الدولي.
وبدأ الفريق رحلته عند الساعة ٠٥:٠٠ صباحاً باتجاه ميناء باكاوهيني، ثم عبر إلى ميناء مراك، قبل مواصلة الطريق براً إلى المطار.
وعند الوصول، نسّق الموظفون مع شركة الطيران المعنية والجهات المختصة لضمان استيفاء وثائق السفر وإجراءات المغادرة.
وقال: «تمت جميع مراحل الترحيل بسلاسة ومن دون عقبات تُذكر، ومع مغادرة المعني إلى بلده، يُعد إجراء الترحيل قد استُكمل».
في المقابل، أوضح رئيس شعبة الاستخبارات وإنفاذ قانون الهجرة، واشونو، أن القضية كُشف عنها بناءً على بلاغ من السكان.
وقال: «تلقينا بلاغاً يفيد بوجود أجنبي في أحد أماكن الإقامة ببندر لامبونغ، فتم التحقق من وثائق هجرته».
وأضاف أن التأشيرة كانت سارية حتى مارس/آذار ٢٠٢٦، إلا أنه بقي حتى مايو/أيار.
وقال: «بذلك يكون قد تجاوز مدة الإقامة بنحو ٦٦ يوماً».
وأكد أن الرقابة على الأجانب ستُعزَّز لضمان النظام العام وإنفاذ القانون.
أنتارا | إندونيسيا اليوم
JAKARTA, INDONESIA ALYOUM – Kantor Imigrasi Kelas I Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Bandarlampung mendeportasi seorang warga negara asing (WNA) Yaman bernama Mohammed Saleh Ahmed Al melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.
“Deportasi tersebut merupakan pelaksanaan tindakan administratif keimigrasian yang dilakukan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku guna menegakkan hukum keimigrasian di wilayah Indonesia,” kata Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPI Bandarlampung Taufiq Hidayat, di Bandarlampung, Sabtu.
Dia mengatakan warga negara yang bersangkutan telah melanggar aturan atau hukum keimigrasian dengan tinggal di Provinsi Lampung melebihi batas waktu izin tinggal.
“Yang bersangkutan telah tinggal melebih batas waktu yang diberikan selama 66 hari,” katanya.
Ia mengatakan proses deportasi semuanya berjalan dengan lancar dan sesuai aturan yang berlaku. Tim Imigrasi Bandarlampung mengawal yang bersangkutan ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Tim memulai perjalanan pada pukul 05.00 WIB menuju Pelabuhan Bakauheni, kemudian menyeberang ke Pelabuhan Merak dan melanjutkan perjalanan darat ke bandara tersebut.
Kemudian, setibanya di bandara itu, petugas melakukan koordinasi dengan pihak maskapai penerbangan dan instansi terkait guna memastikan seluruh dokumen perjalanan serta administrasi keberangkatan telah memenuhi persyaratan yang berlaku.
“Kami bersyukur seluruh rangkaian proses deportasi berjalan lancar tanpa hambatan berarti. Dengan keberangkatan yang bersangkutan ke negara tujuan, tindakan administratif keimigrasian berupa deportasi dinyatakan telah selesai dilaksanakan,” kata dia.
Sementara itu, Kepala Seksi Intelijen dan Penindakan Keimigrasian Kantor Imigrasi Kelas I TPI Bandarlampung, Washono, menjelaskan WNA tersebut pertama kali diketahui keberadaannya dari laporan masyarakat.
“Ada laporan masyarakat yang mencurigai keberadaan warga negara asing tersebut di sebuah penginapan di Bandarlampung. Kemudian kami langsung menindaklanjutinya dengan melakukan pemeriksaan dokumen keimigrasiannya,” kata dia.
Ia mengatakan WNA yang bersangkutan hanya memiliki izin tinggal atau visa yang berlaku hingga Maret 2026, namun hingga Mei warga negara Yaman tersebut masih tinggal di sini.
“Jadi yang bersangkutan ini telah overstay kurang lebih 66 hari,” ujarnya
Dia menegaskan pengawasan terhadap keberadaan dan aktivitas warga negara asing di wilayah kerja Kantor Imigrasi Kelas I TPI Bandarlampung akan terus dioptimalkan sebagai bagian dari upaya menjaga ketertiban umum dan penegakan hukum.
ANTARA | INDONESIA ALYOUM
